, KAREBA — Komet antarbintang 3I/ATLAS melintasi tata surya untuk terakhir kalinya. Teleskop Virtual Telescope Project di Italia menyiarkan langsung pengamatan pada Jumat ini pukul 21:00 UTC.

Teleskop ATLAS di Chile, didanai NASA, pertama kali mendeteksi komet antarbintang 3I/ATLAS pada 1 Juli 2025. Perhitungan lintasannya menunjukkan orbit hiperbolik yang sangat tinggi, sehingga para astronom mengonfirmasi objek ini berasal dari luar tata surya kita.

Komet ini mengikuti jejak ‘Oumuamua tahun 2017 dan Borisov tahun 2019 sebagai objek antarbintang ketiga yang terdeteksi. Sementara itu, 3I/ATLAS menunjukkan perilaku komet sejati dengan pancaran gas dari permukaan esnya saat mendekati Matahari.

Komet antarbintang 3I/ATLAS mencapai titik terdekat dengan Matahari pada 29 Oktober 2025, sejauh 1,36 AU atau sekitar 203 juta kilometer. Kemudian, objek ini mendekati Bumi paling dekat pada 19 Desember 2025, berjarak 270 juta kilometer dari planet kita.

Pengamatan Teleskop Luar Angkasa Hubble memperkirakan inti komet berdiameter 400 meter hingga 5,6 kilometer. Selain itu, proyek Breakthrough Listen menggunakan Green Bank Telescope di West Virginia tidak menemukan sinyal radio buatan selama pendekatan terdekat ke Bumi.

“Ini kesempatan berharga untuk menyaksikan komet antarbintang 3I/ATLAS secara langsung, salah satu penemuan terpenting dekade ini,” kata Gianluca Masi, pendiri Virtual Telescope Project, saat mengumumkan siaran langsung.

Meskipun begitu, para ilmuwan membantah spekulasi asal buatan dari astrofisikawan Harvard Avi Loeb dan menegaskan sifat alami komet ini.

Livestream Pamitan dan Trajektori Selanjutnya

Virtual Telescope Project mengadakan siaran langsung farewell menggunakan teleskop robotik 14 inci di Manciano, Italia, malam ini. Komet antarbintang 3I/ATLAS saat ini memiliki magnitudo 13, sehingga pengamat memerlukan teleskop minimal 8 inci untuk mengimajinasikannya.

Setelah acara ini, komet melanjutkan perjalanan menuju NASA, melewati Jupiter pada 16 Maret 2026 dengan jarak 53,6 juta kilometer.

Kemudian, objek ini menembus Awan Oort selama ribuan tahun sebelum keluar permanen ke ruang antarbintang. Para astronom menelusuri asalnya ke pusat Galaksi Bima Sakti atau cakram tebal yang berusia hingga 7 miliar tahun, lebih tua dari tata surya kita. Namun, kecepatan masuknya mencapai 58 km/detik, menjamin ia tidak terikat gravitasi Matahari.

Sementara itu, komet ini tidak menimbulkan ancaman bagi Bumi, seperti yang ditegaskan NASA. Pengamat di seluruh dunia, termasuk Indonesia, dapat menyaksikan livestream untuk memperingati kunjungan singkat objek langka ini.*/LIA