KAREBA – Yogyakarta selalu menjadi salah satu daerah yang membuat banyak orang ingin kembali berkunjung. Ada sesuatu yang istimewa dari kota ini yang sulit ditemukan di tempat lain. Selain terus menghadirkan destinasi wisata baru, Yogyakarta juga berhasil mengembangkan berbagai kuliner lokal maupun tematik, menjaga tradisi budaya tetap hidup, serta mempertahankan keramahan masyarakatnya yang menjadi identitas kuat daerah tersebut.
Namun, daya tarik Yogyakarta tidak hanya terletak pada sektor pariwisatanya semata. Di tengah perkembangan teknologi dan digitalisasi tata kelola pemerintahan, Yogyakarta juga terus berinovasi melalui konsep smart tourism atau pariwisata cerdas yang memadukan kemajuan teknologi dengan kekuatan budaya lokal.
Sebagai salah satu destinasi wisata unggulan Indonesia, Yogyakarta membuktikan bahwa modernisasi tidak harus menghilangkan identitas daerah. Sebaliknya, teknologi justru dimanfaatkan untuk memperkuat daya saing pariwisata sekaligus menjaga nilai-nilai budaya yang telah mengakar selama ratusan tahun.
Konsep smart tourism di Yogyakarta diwujudkan melalui pemanfaatan teknologi informasi untuk meningkatkan pengalaman wisatawan. Berbagai layanan digital telah tersedia, mulai dari aplikasi panduan wisata, pemesanan tiket secara daring, hingga penyediaan informasi destinasi dan agenda budaya secara real time.
Melalui telepon pintar, wisatawan dapat mengakses informasi mengenai objek wisata, kuliner khas, penginapan, transportasi, hingga berbagai agenda budaya yang berlangsung setiap hari. Kota Yogyakarta saat ini didukung oleh ratusan hotel dan penginapan, puluhan kampung wisata, serta ratusan kegiatan seni dan budaya yang sebagian besar digerakkan oleh komunitas maupun sektor swasta.
Menariknya, meskipun tidak memiliki destinasi wisata alam berupa pantai dan pegunungan di wilayah administrasi kota, Pemerintah Kota Yogyakarta tetap mampu menjadi pusat promosi berbagai destinasi unggulan yang berada di sekitarnya. Wisatawan yang datang ke Yogyakarta tidak hanya menikmati Malioboro atau Keraton Yogyakarta, tetapi juga dapat dengan mudah mengakses destinasi seperti Lava Tour Merapi, Candi Prambanan, Prambanan Jazz Festival, Bhumi Merapi, Obelix Hills, HeHa Forest, Ibarbo Park, hingga berbagai kawasan wisata pantai di Kabupaten Gunungkidul.
Keunggulan Yogyakarta sesungguhnya terletak pada kemampuannya mengintegrasikan teknologi dengan kearifan lokal. Budaya gotong royong, keramahan masyarakat, pelestarian seni tradisional, serta kekuatan komunitas tetap menjadi fondasi utama dalam pengembangan sektor pariwisata.
Berbagai desa wisata yang mengembangkan kerajinan batik, seni pertunjukan, kuliner tradisional, dan ekonomi kreatif menjadi contoh nyata bagaimana teknologi digunakan sebagai alat promosi tanpa menghilangkan identitas budaya yang dimiliki masyarakat.
Lebih jauh lagi, masyarakat lokal tidak hanya ditempatkan sebagai objek wisata, tetapi menjadi subjek utama dalam pengelolaan destinasi. Mereka diberdayakan melalui pelatihan digital, pemasaran berbasis internet, serta pengelolaan wisata berbasis komunitas. Pendekatan seperti ini tidak hanya meningkatkan kesejahteraan masyarakat, tetapi juga menjamin keberlanjutan budaya dan lingkungan.
Yogyakarta menunjukkan bahwa smart tourism tidak selalu identik dengan pembangunan infrastruktur digital yang mahal. Yang lebih penting adalah bagaimana teknologi dimanfaatkan untuk memperkuat nilai-nilai lokal, meningkatkan kualitas pelayanan wisata, serta memperluas akses informasi bagi wisatawan.
Lalu, apa yang dapat dipelajari Kota Palu dari pengalaman Yogyakarta?
Pertama, Kota Palu perlu memperkuat identitasnya sebagai kota geopark dan pusat wisata kebencanaan. Peristiwa gempa bumi, tsunami, dan likuefaksi yang terjadi pada 28 September 2018 memang meninggalkan luka mendalam. Namun, dari tragedi tersebut lahir peluang untuk membangun pusat pembelajaran kebencanaan bertaraf internasional.
Wisata edukasi kebencanaan dapat dikembangkan secara lebih serius dengan menghadirkan pusat informasi mengenai likuefaksi, tsunami, dan fenomena longsoran bawah laut yang terjadi di Teluk Palu. Konsep ini tidak hanya menjadi sarana edukasi, tetapi juga dapat menarik wisatawan, peneliti, akademisi, dan pelajar dari berbagai negara.
Kedua, setelah Bandara Mutiara SIS Al-Jufri kembali berstatus sebagai bandara internasional, Kota Palu harus mengambil peran sebagai pintu gerbang utama pariwisata Sulawesi Tengah. Kota Palu harus mampu menjadi etalase pertama yang memperkenalkan kekayaan alam, budaya, dan sejarah Sulawesi Tengah kepada wisatawan domestik maupun mancanegara.
Potensi wisata Sulawesi Tengah sesungguhnya sangat besar. Mulai dari Taman Nasional Lore Lindu, Danau Poso, Kepulauan Togean, Lembah Bada, situs megalitik Lore, hingga berbagai kawasan konservasi laut yang memiliki nilai sejarah dan kearifan lokal di tingkat dunia.
Ketiga, digitalisasi pariwisata harus menjadi agenda prioritas. Seluruh destinasi wisata, pelaku UMKM, hotel, restoran, hingga agenda budaya perlu terhubung dalam satu ekosistem digital yang mudah diakses wisatawan. Kehadiran teknologi tidak boleh berhenti pada promosi semata, tetapi harus mampu menghadirkan pengalaman wisata yang nyaman, informatif, dan terintegrasi.
Pada akhirnya, keberhasilan sektor pariwisata sangat bergantung pada kualitas kepemimpinan dan inovasi yang dimiliki pemerintah daerah. Dinas Pariwisata bersama seluruh pemangku kepentingan perlu membangun kolaborasi yang kuat agar pariwisata tidak hanya menjadi sektor pendukung, tetapi menjadi salah satu motor penggerak utama pembangunan ekonomi daerah.
Yogyakarta telah menunjukkan bahwa kemajuan teknologi dapat berjalan berdampingan dengan pelestarian budaya. Pertanyaannya kini, apakah Kota Palu siap mengambil pelajaran tersebut dan mengubah potensi yang dimiliki menjadi kekuatan nyata bagi masa depan Sulawesi Tengah?
Jika mampu menjawab tantangan itu, Kota Palu tidak hanya akan menjadi gerbang wisata Sulawesi Tengah, tetapi juga dapat tumbuh sebagai salah satu destinasi unggulan Indonesia yang dikenal dunia.