JAKARTA,  — Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengumumkan daftar wilayah siaga cuaca ekstrem mulai 12 hingga 15 Januari 2026. Wilayah-wilayah tersebut berpotensi mengalami hujan lebat hingga sangat lebat disertai kilat, petir, dan angin kencang. BMKG siaga cuaca ekstrem ini dapat memicu banjir dan longsor di daerah rawan.

BMKG menetapkan status siaga di Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur, dan Papua. Hujan lebat di wilayah tersebut berisiko tinggi menyebabkan bencana hidrometeorologi. Sementara itu, hujan sedang berpotensi melanda Sumatra, Banten, DKI Jakarta, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, dan sebagian Papua.

“Peringatan ini menandakan potensi dampak signifikan jika tidak diantisipasi,” tegas BMKG dalam keterangan resminya di Jakarta pada Minggu (11/1/2026). Aktivitas atmosfer yang tinggi mendorong fluktuasi cuaca cepat di awal 2026. Oleh karena itu, masyarakat harus tingkatkan kewaspadaan.

Selain itu, BMKG memperingatkan angin kencang di Pulau Jawa, Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Maluku Utara, dan Papua Barat Daya. Angin kencang berpotensi merobohkan pohon, mengganggu transportasi, dan meninggikan gelombang di perairan. Pengguna jalan raya, laut, dan udara diminta perhatikan prakiraan terkini.

BMKG mencatat pola angin di Indonesia bagian utara bergerak dari barat laut ke timur laut dengan kecepatan 6-25 knot. Wilayah selatan menghadapi angin hingga 30 knot. Gelombang tinggi 2,5 meter berisiko bagi kapal feri dan nelayan kecil. Meskipun begitu, BMKG menekankan pemantauan berkelanjutan.

Pemerintah daerah di wilayah siaga cuaca ekstrem wajib koordinasikan langkah antisipatif. Masyarakat hindari aktivitas di bawah pohon besar atau sungai deras. Selain itu, petani dan nelayan sesuaikan jadwal kerja dengan prakiraan cuaca harian. BMKG imbau update informasi melalui saluran resmi BMKG.go.id.​

Kondisi cuaca ekstrem ini berlanjut dari pola sebelumnya di awal Januari. Banjir di Sumatera dan longsor di Jawa menjadi catatan penting. Kemudian, BMKG perkuat sistem peringatan dini melalui stasiun observasi. Hal ini membantu respons cepat dari aparat terkait.

Dampak potensial mencakup genangan air di perkotaan dan gangguan listrik akibat petir. Namun, koordinasi antarinstansi dapat minimalisir kerugian. BMKG siaga cuaca ekstrem menegaskan komitmen lindungi masyarakat dari bencana hidrometeorologi.​*/LIA