[JAKARTA], KAREBA — Perusahaan kecerdasan buatan milik Elon Musk, xAI, dilaporkan tengah mengembangkan fitur Skills Grok xAI untuk mempermudah tugas spesifik pengguna secara modular. Penemuan ini pertama kali diungkapkan oleh peneliti aplikasi independen Nima Owji pada 27/03/2026 melalui analisis kode pada antarmuka web chatbot tersebut. Fitur ini dirancang agar pengguna dapat membuat instruksi kustom yang dapat digunakan kembali untuk analisis data hingga riset web.

Pengembangan fitur ini merupakan kelanjutan dari Custom Agents yang telah diluncurkan secara terbatas pada awal Maret lalu. Melalui sistem ini, chatbot berbasis kecerdasan buatan tersebut akan bekerja lebih fleksibel dibandingkan versi standar. Fitur Skills Grok xAI memungkinkan integrasi yang lebih dalam terhadap kebutuhan personalisasi setiap pelanggan layanan X Premium.

Berdasarkan bocoran data, fitur ini akan berjalan di atas arsitektur Grok 4.20 yang baru saja dirilis versi betanya pada Februari lalu. Versi terbaru ini diklaim memiliki tingkat halusinasi yang sangat rendah dengan kecepatan inferensi mencapai 267 token per detik. Langkah ini diambil untuk menyaingi dominasi kustomisasi GPT milik OpenAI dan fitur serupa dari Anthropic.

“SKILLS akan segera hadir di Grok! xAI sedang mengerjakan fitur baru bernama SKILLS untuk Grok yang memungkinkan Anda mendefinisikan kemampuan kustom dengan instruksi mereka sendiri,” kata Nima Owji, Peneliti Aplikasi Independen.

Di Indonesia, akses terhadap layanan kecerdasan buatan ini masih harus mematuhi aturan ketat dari pemerintah. Kementerian Komunikasi dan Digital sebelumnya telah mengeluarkan peringatan keras terkait operasional platform X di tanah air. Platform milik Elon Musk tersebut terancam sanksi administratif jika tidak kooperatif terhadap regulasi lokal yang berlaku.

Pengguna yang ingin menikmati fitur Skills Grok xAI nantinya diwajibkan berlangganan paket X Premium atau Premium plus. Sejak Maret 2026, akses gratis untuk pengujian chatbot ini telah dihentikan sepenuhnya oleh pihak pengelola. Kebijakan ini menegaskan pergeseran strategi bisnis xAI menuju model layanan berbayar yang lebih eksklusif bagi komunitas pengguna X.