JAKARTA, KAREBA. Perusahaan xAI milik Elon Musk resmi membatasi akses chatbot Grok hanya bagi pengguna yang memiliki langganan Grok X Premium atau Premium+ mulai akhir Maret 2026. Keputusan ini mengakhiri masa uji coba gratis yang sempat dinikmati pengguna platform X sebelumnya di tengah persiapan peluncuran fitur modular terbaru bernama Skills.
Perubahan kebijakan akses ini berbarengan dengan temuan fitur Skills oleh peneliti aplikasi independen Nima Owji pada 27/03/2026. Fitur tersebut dirancang untuk memungkinkan pengguna memberikan instruksi kustom yang lebih spesifik untuk tugas-tugas tertentu seperti analisis data dan penulisan konten secara modular.
Dengan mewajibkan langganan Grok X Premium, xAI berupaya memonetisasi kemampuan Grok 4.20 beta yang memiliki performa tinggi. Model kecerdasan buatan ini mencatatkan skor 48 pada Artificial Analysis Intelligence Index dengan kecepatan inferensi mencapai 267 token per detik.
Di Indonesia, biaya untuk menikmati layanan ini mengikuti struktur harga paket langganan Grok X Premium yang berkisar pada angka Rp 165.000 per bulan untuk paket standar. Namun, tantangan muncul dari sisi regulasi karena instansi pemerintah terus memantau kepatuhan platform global terhadap aturan lokal yang berlaku.
Kementerian Komunikasi dan Digital atau Komdigi memberikan peringatan keras terkait operasional platform asing ini di Indonesia. Lembaga tersebut mengancam akan memberikan sanksi administratif hingga pemutusan akses jika pihak X dan Grok tidak kooperatif terhadap regulasi yang berlaku di tanah air.
“SKILLS AKAN SEGERA HADIR DI GROK! xAI sedang mengerjakan fitur baru bernama SKILLS untuk GROK! Ini memungkinkan Anda mendefinisikan skills kustom dengan instruksi mereka sendiri, dan GROK akan menjalankannya saat Anda memintanya!” kata Nima Owji, Peneliti Aplikasi Independen.
Fitur Skills ini diharapkan mampu menyaingi produk kompetitor seperti Custom GPTs milik OpenAI atau Skills milik Anthropic. Meskipun akses gratis telah ditutup sepenuhnya bagi pengguna umum, penambahan fitur modular ini menjadi daya tarik utama bagi pelanggan berbayar untuk tetap bertahan dalam ekosistem kecerdasan buatan milik Elon Musk.