JAKARTA, KAREBA — Pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi memprediksi rupiah tembus Rp17.000 per dolar AS pekan depan. Prediksi ini muncul setelah rupiah ditutup melemah di Rp16.896 per dolar AS pada Kamis (15/1/2026). Tekanan berasal dari sentimen global dan domestik.​

Ibrahim Assuaibi menyatakan rupiah berpotensi mencapai Rp16.840 hingga Rp17.000.

“Rupiah diperkirakan minggu depan tembus Rp16.840 – Rp17.000,” kata Ibrahim Assuaibi, Direktur PT Traze Andalan Futures, pada Jumat (16/1/2026). Sementara itu, rupiah sempat menyentuh Rp16.878 pada Selasa, level terlemah sepanjang masa.​

Sentimen global memanaskan situasi. Ketua The Federal Reserve Jerome Powell menerima panggilan dari Departemen Kehakiman AS terkait dugaan penyelidikan kriminal. Selain itu, pembatalan pembicaraan AS-Iran menimbulkan kekhawatiran konflik. Ibrahim Assuaibi menilai hal ini memperkuat sentimen risk-off di pasar.

Di domestik, koordinasi pemerintah mendapat sorotan. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa sebut dana Rp275 triliun dari Bank Indonesia ke bank Himbara belum beri dampak. “Dana Rp275 yang digelontorkan dari Bank Indonesia ke Bank Himbara ini pun juga tidak ada hasilnya sama sekali,” kata Ibrahim Assuaibi.

Namun, Purbaya Yudhi Sadewa tetap optimistis. Ia yakin rupiah menguat dalam dua minggu. “Tidak usah panik, rupiah akan segera menguat dalam dua minggu ke depan,” kata Purbaya Yudhi Sadewa, Menteri Keuangan, pada Rabu (14/1).

Meskipun begitu, ia tekankan fondasi ekonomi solid dengan proyeksi pertumbuhan 5,45% di kuartal IV-2025 dan potensi 6% sepanjang 2026.​

Bank Indonesia terus intervensi pasar. Erwin G Hutapea, Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI, pastikan stabilisasi nilai tukar.

“Bank Indonesia akan terus berada di pasar untuk memastikan nilai tukar rupiah bergerak sesuai dengan nilai fundamental dan mekanisme pasar yang sehat,” kata Erwin G Hutapea.

Rupiah diprediksi tembus Rp17.000 per dolar AS pekan depan masih jadi perhatian pelaku pasar. Kemudian, investor tunggu respons kebijakan moneter lanjutan. Selain itu, data ekonomi AS dan geopolitik global ikut pengaruhi arah pergerakan. Pemerintah harap arus modal masuk kuatkan rupiah seiring pemulihan.​

Pelemahan rupiah ini terjadi di tengah IHSG capai rekor. Namun, Ibrahim Assuaibi ingatkan kenaikan saham sering picu pelemahan mata uang.

“Di mana-mana pada saat saham-saham naik, ya pasti dampaknya terhadap pelemahan mata uang rupiah,” katanya. Kondisi ini dorong BI gelar Rapat Dewan Gubernur lebih awal.

Purbaya Yudhi Sadewa yakini dana repatriasi warga Indonesia dari luar negeri bantu penguatan. “Fondasi kita kuat. Rupiah akan masuk karena modal akan masuk ke sini,” ujarnya.

Meskipun begitu, pelaku pasar tetap waspada terhadap fluktuasi pekan depan.*/LIA