JAKARTA, KAREBA – Lima peserta program Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI) 2026 meninggal dunia dalam tragedi Latsarmil SPPI 2026 yang berlangsung di berbagai pusat pendidikan militer. Para korban merupakan calon manajer Koperasi Desa Merah Putih yang tengah menjalani kewajiban latihan dasar kemiliteran sejak 17/06 hingga 26/06. Peristiwa pilu ini menimpa Yonanda Muhammad Taufiq dan empat rekan lainnya saat mengikuti pelatihan fisik berat di wilayah Sumatera Selatan serta Kalimantan.
Para korban meninggal lainnya tercatat atas nama Anisa Muyassaroh, Novia Rahmadhani Sihotang, Muhammad Rifki Renaldi Gunawan, dan Nola Dya Sari. Berdasarkan keterangan tim medis, para peserta mengalami gangguan kesehatan serius seperti henti jantung, serangan panas, hingga sesak napas akut. Meskipun telah mendapatkan penanganan medis darurat, nyawa kelima calon manajer tersebut tidak tertolong dalam rentang waktu pelatihan sepuluh hari tersebut.
Pihak Kementerian Pertahanan menyatakan bahwa seluruh dari 674 peserta sebenarnya telah lolos pemeriksaan kesehatan ketat sebelum mengikuti program tersebut. Pemeriksaan mencakup uji laboratorium, EKG, hingga rontgen untuk memastikan kondisi fisik peserta sebelum menghadapi Tragedi Latsarmil SPPI 2026. Pihak kementerian mengklaim prosedur seleksi sudah dijalankan sesuai standar operasional yang berlaku bagi warga sipil.
“Atas nama Kementerian Pertahanan Republik Indonesia, Panitia Seleksi Nasional dan seluruh penyelenggara program Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia, menyampaikan dukacita yang sedalam-dalamnya atas wafatnya lima peserta program SPPI KDKMP KNMP 2026 yang sedang mengikuti pelatihan bela negara dan manajerial,” kata Mayjen TNI Ketut Gede Wetan Pastia, Kepala BPSDM Kemhan.
Kementerian Pertahanan juga telah menyalurkan santunan senilai Rp 50 juta kepada masing-masing keluarga ahli waris sebagai bentuk tanggung jawab moril. Namun, pemberian santunan ini tidak menghentikan arus kritik dari parlemen yang menyoroti relevansi pelatihan militer bagi tenaga manajerial koperasi. Tragedi Latsarmil SPPI 2026 dianggap menjadi bukti adanya ketidaksesuaian beban fisik dengan profil latar belakang peserta dari kalangan sipil.
“Peristiwa meninggalnya lima orang calon manajer Kopdes Merah Putih ini merupakan masalah yang sangat serius. Jangan anggap enteng nyawa manusia yang meninggal,” kata Oleh Soleh, Anggota Komisi I DPR dari Fraksi PKB.
Menanggapi kejadian ini, Komisi I DPR RI mendesak pemerintah untuk segera melakukan moratorium atau penghentian sementara terhadap seluruh kegiatan fisik kemiliteran dalam program tersebut. Anggota dewan menyarankan agar kurikulum pelatihan diubah menjadi metode pembinaan yang lebih fokus pada kompetensi manajerial dan ekonomi kerakyatan. Tragedi Latsarmil SPPI 2026 diharapkan menjadi titik balik evaluasi total terhadap sistem rekrutmen manajer koperasi nasional di masa depan.
“Pelatihan manajemen koperasi harus tetap berjalan karena sangat dibutuhkan. Namun latihan dasar kemiliteran yang justru merenggut nyawa peserta sudah saatnya dihentikan dan diganti dengan metode pembinaan yang lebih relevan dengan tugas mereka,” kata TB Hasanuddin, Anggota Komisi I DPR dari Fraksi PDIP.