WASHINGTON, KAREBA — Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan keyakinannya bahwa Presiden China Xi Jinping tidak akan mencoba merebut Taiwan selama Trump masih menjabat. Pernyataan ini disampaikan Trump dalam wawancara dengan The New York Times pada Jumat (9/1/2026). Trump menambahkan bahwa ia telah memperingatkan Xi Jinping secara langsung agar tidak mengambil langkah tersebut.
Trump menegaskan sikap tegasnya terhadap China terkait isu Taiwan.
“Dia mungkin akan melakukannya setelah kita punya presiden yang berbeda, tetapi saya tidak merasa dia akan melakukannya saat saya menjadi presiden,” kata Donald Trump. Trump mengaku sudah menyampaikan ketidaksenangannya secara pribadi kepada Xi Jinping.
Sementara itu, Trump membandingkan situasi Taiwan dengan Venezuela. Ia menjelaskan bahwa penangkapan Nicolás Maduro oleh militer AS berbeda dengan isu Taiwan.
“Anda tidak melihat orang-orang berbondong-bondong masuk ke China,” ujar Trump, merujuk pada klaimnya bahwa Maduro membiarkan geng masuk ke AS.
China menggelar latihan militer besar-besaran di sekitar Taiwan pada akhir Desember 2025. Latihan bertajuk “Justice Mission 2025” melibatkan angkatan darat, laut, udara, dan pasukan roket. Komando Teater Timur China menerapkan pembatasan ruang laut dan udara di lima zona sekitar Taiwan selama 10 jam.
Shi Yi, juru bicara Komando Teater Timur China, menyebut latihan tersebut sebagai peringatan serius. “Ini merupakan peringatan serius bagi kekuatan separatis ‘Kemerdekaan Taiwan’ dan kekuatan campur tangan eksternal,” kata Shi Yi, Juru Bicara Komando Teater Timur China, pada 29 Desember 2025.
Kementerian Luar Negeri China membantah pernyataan Trump. “Isu Taiwan sepenuhnya merupakan urusan dalam negeri China. Cara penyelesaiannya adalah urusan rakyat China sendiri dan tidak mentoleransi campur tangan asing,” tegas pihak berwenang China terkait klaim Trump soal Xi Jinping.
AS baru saja menjual senjata senilai lebih dari 11 miliar dolar AS ke Taiwan pada 17 Desember 2025. Langkah ini memicu protes keras dari Beijing. Meskipun begitu, Trump tetap yakin dengan posisinya terhadap Xi Jinping.
Trump Jinping Taiwan menjadi sorotan di tengah ketegangan geopolitik. China memandang Taiwan sebagai provinsi pemberontak. Sementara itu, AS terus dukung Taipei melalui penjualan senjata. Departemen Luar Negeri AS.
Pernyataan Trump memicu diskusi luas di media sosial China. Banyak pengguna Weibo menyarankan Beijing pelajari ketegasan Trump terhadap Venezuela. Namun, pakar seperti Lev Nachman dari National Taiwan University memperingatkan risiko jangka panjang bagi Taiwan.
Situasi ini menunjukkan dinamika kompleks antara AS dan China. Trump menekankan konsekuensi bagi Xi Jinping jika menyerang Taiwan. Selain itu, latihan militer China terus tingkatkan tekanan di Selat Taiwan.
Kedua negara saling tunjukkan kekuatan militer. AS perkuat aliansi di Indo-Pasifik melalui penjualan senjata. China balas dengan latihan tempur terintegrasi di sekitar Taiwan.*/LIA