BEIJING, KAREBA — Pemerintah China secara resmi mendesak Amerika Serikat dan Israel untuk segera menghentikan operasi militer guna meredam eskalasi konflik Timur Tengah yang semakin mengancam stabilitas global pada Senin 23/03.

Pernyataan tegas ini muncul setelah penutupan Selat Hormuz oleh Iran yang memutus jalur distribusi bagi 20 persen pasokan minyak dan gas dunia. China menilai situasi ini sebagai ancaman serius bagi pertumbuhan ekonomi negara-negara berkembang.

“The one who tied the bell must be the one to untie it,” kata Zhai Jun, Utusan Khusus China untuk Timur Tengah.

Zhai Jun menekankan bahwa pihak yang memulai ketegangan memiliki tanggung jawab penuh untuk menyelesaikannya secara diplomatik. Kementerian Luar Negeri China memperingatkan bahwa penggunaan kekuatan militer hanya akan memicu siklus kekerasan yang merusak bagi semua pihak.

“Should the hostilities continue to spread and intensify, the entire region will be plunged into chaos,” kata Lin Jian, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China.

Eskalasi konflik Timur Tengah ini juga bertepatan dengan peringatan 23 tahun invasi Irak pada 20/03. Beijing mengingatkan bahwa perang masa lalu telah membawa penderitaan mendalam bagi rakyat Irak dan destabilisasi kawasan yang luas selama puluhan tahun.

“The use of force would only lead to a ‘vicious cycle’ and that the war should not have been started,” kata Lin Jian, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China.

Pelemahan pertumbuhan ekonomi pada mitra dagang akibat konflik Timur Tengah akan menekan angka ekspor nasional pada kuartal mendatang. China kini mulai memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi kuartal kedua tahun 2026 karena tingginya risiko inflasi energi global.