JAKARTA, KAREBA – Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto menyampaikan peringatan dini kepada seluruh masyarakat untuk bersiap menghadapi potensi kesulitan ekonomi akibat Perang di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Israel, dan Amerika Serikat.
Peringatan tersebut disampaikan Presiden dalam rangkaian peresmian infrastruktur di berbagai wilayah pada 09/03/2026. Situasi geopolitik ini memicu lonjakan harga minyak mentah global yang berdampak langsung pada stabilitas fiskal dan daya beli domestik akibat terganggunya jalur logistik di Selat Hormuz.
Selain faktor energi, pelemahan nilai tukar rupiah yang sempat menyentuh angka 17.000 per dolar Amerika Serikat turut memperparah tekanan ekonomi akibat Perang di Timur Tengah bagi sektor industri nasional. Pemerintah kini tengah melakukan koordinasi lintas kementerian untuk memitigasi dampak kenaikan biaya logistik dan harga pangan.
“Presiden RI Prabowo Subianto menyatakan bahwa rakyat Indonesia harus bersiap menghadapi kesulitan akibat perang yang pecah di Timur Tengah saat ini,” kata Prabowo Subianto, Presiden Republik Indonesia.
Prabowo menegaskan bahwa pemerintah tidak akan menutupi kondisi sulit yang sedang dihadapi bangsa saat ini. Ia berencana menyampaikan taklimat khusus kepada seluruh rakyat Indonesia dalam waktu dekat untuk menjelaskan langkah strategis pemerintah dalam menjaga ketahanan nasional dan pemberantasan kebocoran anggaran.
“Kita menghadapi kesulitan dengan sikap kita ingin mengatasi kesulitan. Kita harus berani mengatasi kesulitan. Kita tidak menutupi kesulitan, kita tidak pura-pura tidak ada kesulitan,” kata Prabowo Subianto, Presiden Republik Indonesia.
Sektor usaha juga mulai merasakan dampak nyata dari konflik ini yang memicu kenaikan ongkos angkut laut. Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia, Erwin Aksa, menyebutkan bahwa kenaikan biaya asuransi pelayaran dan harga bahan baku impor menjadi beban berat bagi pelaku industri manufaktur.
Sebagai langkah antisipasi, pemerintah mulai mencari sumber pasokan minyak alternatif untuk mengamankan stok energi nasional. Pengalihan anggaran dari sejumlah pos belanja juga dipertimbangkan guna menopang subsidi agar harga kebutuhan pokok tetap terjangkau oleh masyarakat luas di tengah ancaman ekonomi akibat Perang di Timur Tengah.