JAKARTA, KAREBA. Presiden Prabowo Subianto mengungkapkan kekagetannya setelah mengetahui jumlah Anak Cucu Pertamina yang mencapai sekitar 200 entitas serta mempersoalkan regulasi audit pada badan usaha tersebut.

Prabowo menilai struktur yang terlalu luas membuat pengawasan menjadi sulit dan berpotensi menimbulkan penyimpangan tata kelola. Kritik ini disampaikan saat acara Tasyakuran HUT ke 1 Danantara di Jakarta Selatan pada 11/03/2026.

“Saya kaget, Pertamina punya 200 anak dan cucu perusahaan,” kata Prabowo Subianto, Presiden Republik Indonesia.

Presiden juga mempertanyakan adanya aturan hukum yang membedakan kewenangan audit antara perusahaan induk dengan Anak Cucu Pertamina. Saat ini, hanya perusahaan induk yang wajib diaudit negara, sementara cucu perusahaan seringkali luput dari pemeriksaan auditor pemerintah.

“Kalau BUMN boleh diaudit oleh negara, katanya kalau cucu perusahaan ndak boleh diaudit. Peraturan dari mana ini?” kata Prabowo Subianto, Presiden Republik Indonesia.

Sebagai langkah efisiensi, pemerintah melalui Danantara terus mendorong konsolidasi besar-besaran. Saat ini PT Pertamina (Persero) telah mulai merampingkan unit usahanya dari 257 menjadi 242 perusahaan per Februari 2026 dengan menyasar lini bisnis non inti.

Program efisiensi ini diklaim mulai membuahkan hasil positif bagi keuangan negara. Prabowo menyebut laporan return on asset atau RoA sepanjang tahun 2025 meningkat drastis hingga lebih dari 300 persen dibandingkan periode sebelumnya.

“Ini membuktikan premis kita mendirikan Danantara ini bahwa tidak mungkin suatu manajemen yang baik kalau tidak di satu kendali, di satu tangan, di satu manajemen,” kata Prabowo Subianto, Presiden Republik Indonesia.

Pemerintah menargetkan total entitas BUMN yang saat ini berjumlah 1.043 perusahaan bisa menyusut hingga tersisa 300 perusahaan saja pada akhir tahun ini. Langkah konsolidasi Anak Cucu Pertamina dan BUMN lainnya dipastikan akan dilakukan secara cermat tanpa adanya pemutusan hubungan kerja terhadap karyawan.