BITUNG, KAREBA bumi tektonik berkekuatan magnitudo 7,6 mengguncang wilayah Sulawesi Utara dan Maluku Utara pada Kamis (02/04) pagi. Peristiwa Gempa Sulawesi Utara ini memicu peringatan dini tsunami dan menyebabkan satu orang warga di Kota Manado meninggal dunia akibat tertimpa reruntuhan bangunan.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat episentrum gempa berada di Laut Maluku pada kedalaman 62 kilometer. Getaran kuat Gempa Sulawesi Utara tersebut dirasakan warga selama 10 hingga 20 detik di wilayah Bitung, Manado, hingga Ternate. Gempa ini awalnya tercatat berkekuatan magnitudo 7,3 sebelum dimutakhirkan oleh tim ahli di lapangan.

Meskipun peringatan dini tsunami sempat berada pada status siaga, gelombang yang masuk ke daratan tergolong kecil dan tidak menimbulkan kerusakan massal. Di wilayah Minahasa Utara, tinggi gelombang tertinggi tercatat mencapai 0,75 meter, sementara di Bitung tercatat setinggi 0,2 meter. Masyarakat di wilayah pesisir sempat mengungsi ke tempat tinggi sebelum peringatan tsunami resmi diakhiri pada pukul 10:56 WITA.

“Gempa bumi ini berpotensi tsunami di wilayah Kota Ternate, Halmahera, Tidore, Bitung, dengan status siaga dengan ketinggian tsunami 0,5 hingga 3 meter,” kata Teuku Faisal Fathani, Kepala Pusat Data Informasi dan Komunikasi Gempa Tsunami BMKG.

Pihak berwenang mengonfirmasi bahwa kerusakan bangunan dilaporkan terjadi di beberapa titik, termasuk Hall B Gedung KONI Sario Manado yang roboh. Menurut data resmi dari BNPB, korban jiwa atas nama Deyce Lahia yang berusia 69 tahun ditemukan meninggal dunia di lokasi tersebut akibat tertimpa tembok gedung.

“Berdasarkan pemantauan sistem peringatan dini, telah terdeteksi gelombang tsunami dengan ketinggian relatif kecil, yakni sekitar 0,3 meter di wilayah Halmahera Barat pada pukul 06.08 WIB dan 0,2 meter di Bitung pada pukul 06.15 WIB,” kata Abdul Muhari, Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB.

Hingga siang hari, petugas mencatat sebanyak 29 kali gempa susulan dengan kekuatan yang cenderung menurun seiring waktu. Insiden Gempa Sulawesi Utara susulan terbesar berada pada angka magnitudo 5,5 yang terjadi tak lama setelah guncangan utama. Warga diimbau untuk tetap tenang namun waspada terhadap potensi kerusakan lanjutan pada struktur bangunan yang sudah mulai retak.