JAKARTA, KAREBA – Football Supporters Europe (FSE) melayangkan keluhan resmi kepada FIFA terkait lonjakan harga tiket Piala Dunia 2026 yang dinilai tidak masuk akal bagi suporter kelas menengah ke bawah. Organisasi pendukung sepak bola tersebut menyebut struktur biaya yang diterapkan saat ini sangat eksorsif dan dapat mengasingkan fans setia dari tribun stadion.

Kelompok suporter mengkritik tajam harga tiket Piala Dunia 2026 yang dimulai dari Rp986 ribu untuk fase grup hingga menyentuh angka Rp139 juta untuk partai final. Penerapan sistem harga dinamis tanpa transparansi dianggap merugikan penonton karena nilai tiket bisa berubah sewaktu-waktu berdasarkan daya tarik sebuah pertandingan.

“Untuk final, tiket mencapai sekitar USD 4.000. Anda butuh fans, warna, atmosfer di tribun. Dengan harga ini, semua itu tidak akan terjadi,” kata Ronan Evain, Direktur Eksekutif FSE.

Data riset menunjukkan bahwa satu keluarga berisi empat orang membutuhkan biaya sekitar Rp480 juta hanya untuk mendapatkan paket tiket kategori tinggi. Kondisi ini membuat mayoritas pendukung, terutama dari wilayah Eropa, merasa keberatan untuk melakukan perjalanan jauh ke Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko.

“Kami berbicara soal USD 30.000 untuk keluarga berisi empat orang. Mayoritas fans tidak mampu membayar ini, bahkan di Eropa,” kata Ronan Evain, Direktur Eksekutif FSE.

Pihak Football Supporters Europe secara tegas menyatakan bahwa pengalihan alokasi tiket tim nasional ke penjualan publik merupakan bentuk pengabaian terhadap loyalitas suporter. FIFA sendiri mencatat telah ada sekitar 150 juta pesanan tiket yang masuk melalui sistem pra-penjualan hingga awal 2026.

“Ini adalah pengkhianatan monumental terhadap tradisi Piala Dunia, mengabaikan kontribusi pendukungnya terhadap tontonan itu,” kata pernyataan resmi Football Supporters Europe (FSE).

Meski permintaan sangat tinggi, para pendukung mendesak agar FIFA menetapkan harga tetap untuk setiap fase pertandingan guna menjaga inklusivitas. Jika kebijakan harga tiket Piala Dunia 2026 tidak segera diubah, dikhawatirkan turnamen tersebut hanya akan dihadiri oleh kalangan elit dan kehilangan identitas budaya sepak bolanya.