WASHINGTON, KAREBA – Republik Islam Iran secara resmi menyatakan Iran tolak proposal gencatan senjata 15 poin yang diajukan Amerika Serikat pada 25/03/2026. Langkah ini memperumit upaya pemerintahan Donald Trump untuk mengakhiri konflik yang telah berlangsung selama satu bulan di kawasan Timur Tengah dan Teluk Arab. Meskipun terdapat penolakan publik, Washington mengklaim bahwa proses negosiasi masih terus berjalan di balik layar.
Proposal perdamaian yang diajukan Amerika Serikat mencakup syarat pembongkaran fasilitas nuklir utama serta pembatasan arsenal rudal Iran hanya untuk pertahanan diri. Sebagai imbalannya, Washington menawarkan pencabutan sanksi ekonomi yang selama ini menekan Teheran secara signifikan. Namun, pihak Teheran justru mengajukan kondisi tandingan seperti jaminan keamanan dari serangan lanjutan serta reparasi atas kerusakan perang.
“Saya berharap mencapai kesepakatan pada akhir pekan ini,” kata Donald Trump, Presiden Amerika Serikat.
Selain itu, Teheran menuntut pengakuan internasional atas otoritas mereka di Selat Hormuz sebagai prasyarat perdamaian. Eskalasi militer dilaporkan masih berlanjut di mana Iran terus melancarkan serangan ke arah Israel dan negara-negara Arab Teluk. Situasi ini meningkatkan ketegangan regional di tengah upaya diplomasi intensif yang sedang diupayakan oleh pihak Gedung Putih.
“Pembicaraan perdamaian dengan Iran masih berlangsung,” kata juru bicara resmi Gedung Putih.
Wakil Presiden Amerika Serikat JD Vance dijadwalkan akan mengunjungi Pakistan pada akhir pekan ini untuk menjajaki komunikasi lebih lanjut dengan utusan Teheran. Pakistan dianggap sebagai mediator potensial untuk memecah kebuntuan negosiasi setelah Iran tolak proposal gencatan senjata tersebut secara terbuka. Publik kini menanti apakah diplomasi tingkat tinggi ini mampu menghentikan perang sebelum memasuki bulan kedua konflik.