JAKARTA, KAREBA. Kementerian Kesehatan RI mencatat tren Kasus Campak Indonesia 2026 mulai menunjukkan penurunan pada pekan kedua Maret 2026 setelah sempat mengalami lonjakan tajam pada awal tahun. Meskipun angka mingguan melandai, ancaman Kejadian Luar Biasa (KLB) masih membayangi sejumlah wilayah akibat capaian imunisasi yang belum merata.
Data nasional hingga 24/03 mencatat jumlah suspek berada di kisaran 8.224 sampai 10.453 kasus dengan konfirmasi laboratorium mencapai 8.372 kasus. Meski jumlah kasus tinggi, tingkat kematian atau Case Fatality Rate (CFR) tahun ini tercatat sebesar 0,05 persen, yang berarti lebih rendah dibandingkan periode tahun sebelumnya.
Sebanyak 11 provinsi saat ini masih berstatus KLB, termasuk Jawa Barat, Jawa Timur, dan Sulawesi Selatan. Beberapa wilayah seperti Aceh, Sumatera Barat, dan Riau menjadi perhatian serius karena cakupan vaksin MR di daerah tersebut hanya mencapai 11 persen, sangat jauh dari target nasional sebesar 90 persen.
“Padahal targetnya 90 persen kita bayangkan ya. Jadi betul-betul ini sangat memprihatinkan,” ujar dr. dr. Piprim Basarah Yanuarso, Sp.A(K), Ketua Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI).
Pemerintah terus mengupayakan imunisasi kejar dan tambahan untuk memutus rantai penularan, terutama di wilayah dengan mobilitas tinggi menjelang Lebaran. Kementerian Kesehatan RI menekankan bahwa perlindungan kelompok hanya bisa tercapai jika tidak ada wilayah yang tertinggal dalam program vaksinasi rutin.
“Pencegahan campak sangat bergantung pada imunisasi yang lengkap dan merata. Ketika cakupan tinggi dan tidak ada wilayah yang tertinggal, rantai penularan bisa dihentikan,” kata Andi Saguni, Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Penanggulangan Penyakit Kementerian Kesehatan RI.
Selain masalah cakupan, IDAI juga menyoroti maraknya salah persepsi orang tua mengenai reaksi pascavaksinasi seperti demam dan ruam ringan. Hal tersebut merupakan reaksi normal tubuh dalam membentuk antibodi dan bukan merupakan tanda anak terjangkit Kasus Campak Indonesia 2026 yang sesungguhnya.