TEHERAN, KAREBA – Eskalasi konflik Israel Iran 2026 semakin memuncak setelah pasukan gabungan Israel dan Amerika Serikat melancarkan serangan udara masif ke berbagai wilayah strategis di Iran sejak 28/02. Operasi militer berskala besar yang diberi sandi Operation Roaring Lion dan Operation Epic Fury ini menargetkan instalasi nuklir serta infrastruktur militer di kota-kota utama seperti Teheran, Isfahan, hingga Tabriz.
Hingga memasuki pekan kedua pada 10/03, militer Israel dilaporkan telah menghantam sedikitnya 3.400 target di wilayah Iran dan 600 target di Lebanon. Langkah agresif ini dilakukan sebagai upaya pencegahan terhadap program nuklir Iran serta untuk melemahkan kekuatan milisi pro-Iran di kawasan Timur Tengah yang terus meningkat sejak ketegangan pada tahun-tahun sebelumnya.
Data dari Institute for National Security Studies menunjukkan adanya peningkatan frekuensi serangan udara Israel hingga tiga kali lipat dalam beberapa hari terakhir. Kondisi ini memperparah situasi konflik Israel Iran 2026 yang telah menelan korban jiwa lebih dari 1.200 orang di pihak Iran berdasarkan laporan otoritas keamanan setempat.
“Tujuan kami adalah membawa rakyat Iran untuk melepaskan diri dari kuk tirani, pada akhirnya itu tergantung pada mereka. Tetapi tidak diragukan lagi bahwa dengan tindakan yang telah diambil sejauh ini, kami sedang mematahkan tulang-tulang mereka,” kata Benjamin Netanyahu, Perdana Menteri Israel.
Menanggapi serangan tersebut, pihak Teheran melancarkan aksi balasan dengan menembakkan rudal balistik dan drone ke arah Yerusalem serta pangkalan militer Amerika Serikat. Selain itu, penutupan Selat Hormuz oleh militer Iran telah menyebabkan gangguan serius pada pengiriman minyak global yang memicu kenaikan harga bahan bakar di pasar internasional di tengah ketegangan konflik Israel Iran 2026 ini.
“Agresor harus dipukul di mulut agar dia belajar pelajaran,” kata Mohammad Bagher Qalibaf, Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Iran.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump awalnya menyatakan bahwa operasi militer ini hanya akan menjadi ekspedisi singkat untuk menetralisir ancaman nuklir. Namun, melalui pernyataan terbarunya, ia memberikan peringatan keras bahwa militer Amerika Serikat akan bertindak jauh lebih keras jika Iran terus melakukan pemblokiran di jalur pelayaran internasional.
“AS akan memukul Iran dua puluh kali lebih keras jika terus memblokir Selat Hormuz,” kata Donald Trump, Presiden Amerika Serikat.
Situasi di lapangan masih sangat dinamis dengan sirene peringatan udara yang terus berbunyi di wilayah konflik Israel Iran 2026. Masyarakat internasional melalui Perserikatan Bangsa Bangsa kini mulai menyuarakan kekhawatiran diplomatik terkait potensi perang terbuka yang lebih luas jika kedua belah pihak tidak segera melakukan gencatan senjata.