[PATERSON], KAREBA. Aktivis asal Palestina Leqaa Kordia bebas dari pusat penahanan imigrasi Amerika Serikat pada 16/03/2026 setelah hampir satu tahun mendekam di balik jeruji besi. Kordia yang dibebaskan dengan jaminan senilai Rp1,6 miliar langsung menghadiri rapat umum di New Jersey untuk menyuarakan perjuangan hak asasi manusia.
Perempuan berusia 33 tahun ini ditangkap pada Maret 2025 lalu saat melakukan pelaporan rutin ke kantor imigrasi. Ia ditahan menyusul keterlibatannya dalam aksi protes pro-Palestina di Universitas Columbia dan masalah masa berlaku visa pelajar yang kedaluwarsa. Selama berada di dalam sel, Kordia dilaporkan harus kehilangan sekitar 200 anggota keluarganya akibat konflik di Gaza.
“Saya hanya ingin mengucapkan hamdullah, hamdullah, hamdullah,” kata Leqaa Kordia, Aktivis Palestina.
Hakim imigrasi Tara Naselow-Nahas akhirnya memberikan izin pembebasan setelah desakan luas dari berbagai organisasi internasional termasuk Amnesty International. Meskipun Leqaa Kordia bebas, proses hukum terkait status residensi dan kasus federal miliknya masih terus berjalan di pengadilan Amerika Serikat. Ia diwajibkan melakukan wajib lapor secara berkala kepada pihak berwenang sebagai syarat jaminan.
Dalam pidatonya di hadapan massa di Paterson, Kordia menceritakan pengalaman pahitnya selama berada dalam tahanan ICE yang tidak manusiawi. Ia menggambarkan kondisi tempat tersebut sebagai penjara bawah tanah yang penuh dengan ketidakadilan bagi para pencari suaka. Dukungan mengalir dari berbagai pihak termasuk kelompok Jewish Voice for Peace yang mengawal kasusnya sejak awal penangkapan.
“Saya telah melihat dan mengalami begitu banyak ketidakadilan di penjara bawah tanah ICE,” kata Leqaa Kordia, Aktivis Palestina.
Kordia menegaskan komitmennya untuk tidak berhenti berjuang demi kemerdekaan rakyat Palestina meski baru saja keluar dari masa sulit. Peristiwa Leqaa Kordia bebas ini menjadi simbol perlawanan bagi para aktivis di Amerika Serikat yang menuntut kebebasan berpendapat. Saat ini ia telah berkumpul kembali bersama keluarganya di New Jersey sambil terus memantau situasi di tanah kelahirannya.