JAYAPURA, KAREBA — Pitohui burung beracun pertama di dunia ditemukan di Papua. Burung cantik berwarna oranye-hitam ini menyimpan racun batrachotoxin yang berbahaya bagi manusia maupun predator.
Burung Pitohui termasuk genus Pitohui dengan beberapa spesies, seperti Pitohui dichrous, Pitohui ferrugineus, dan Pitohui kirhocephalus. Satwa ini hidup di hutan hujan tropis, pinggiran hutan, hingga pegunungan rendah Papua dan Papua Nugini. Panjang tubuhnya sekitar 23 sentimeter dengan berat rata-rata 70 gram. Warna bulunya yang mencolok berfungsi sebagai tanda peringatan alami.
Peneliti mencatat bahwa burung Pitohui memperoleh racun dari kumbang genus Choresine yang menjadi makanannya. Racun tersebut kemudian terakumulasi di bulu dan kulit. Racun batrachotoxin dapat mengganggu saluran natrium pada saraf, menyebabkan mati rasa, sensasi terbakar, hingga aritmia jantung. “Kontak langsung dengan bulu atau kulit pitohui dapat menyebabkan sensasi terbakar, mati rasa, dan gangguan pernapasan,” kata peneliti Kasun Bodawatta dari Universitas Copenhagen pada 2023.
Sejarah penemuan burung beracun ini berawal pada 1989 ketika Jack Dumbacher, seorang ornitolog, mengalami mati rasa pada bibirnya setelah tanpa sengaja menyentuh bulu Pitohui di Papua Nugini. Penelitian lanjutan pada 1992 kemudian mengonfirmasi keberadaan batrachotoxin. Penemuan tersebut menjadikan Pitohui sebagai burung pertama di dunia yang dikonfirmasi beracun.
Meski beracun, status konservasi Pitohui masih tergolong stabil. International Union for Conservation of Nature (IUCN) memasukkannya dalam kategori Least Concern. Namun, ancaman tetap muncul dari deforestasi, perubahan iklim, dan perdagangan burung ilegal. “Sebagian besar perdagangan burung kicau di Indonesia melibatkan burung liar sehingga tidak berkelanjutan,” kata Vincent Nijman, pakar burung dari Oxford Brookes University, pada 2023.
Selain ancaman perdagangan, peneliti juga mengingatkan risiko ekologi. Jika populasi kumbang Choresine berkurang akibat pestisida, maka cadangan racun pada Pitohui ikut berkurang. Hal ini dapat mengganggu mekanisme pertahanan alaminya.
Pitohui menjadi simbol keunikan biodiversitas Papua sekaligus pengingat akan bahaya interaksi langsung dengan satwa beracun. Masyarakat disarankan menghindari kontak fisik dengan burung ini serta mendukung upaya pelestarian habitat alaminya. Informasi resmi mengenai status konservasi burung ini tersedia di IUCN Red List.ELS