WASHINGTON,  — Pedagang komoditas Vitol memuat kargo naphtha pertamanya dari Pantai Teluk AS ke Venezuela akhir pekan ini, sementara pesaingnya Trafigura bersiap memuat pengiriman minyak mentah Venezuela minggu depan. Langkah ini menandai implementasi awal kesepakatan baru pemerintah AS untuk mengelola ekspor minyak Venezuela pasca penangkapan Nicolás Maduro. Vitol Venezuela naphtha tersebut berfungsi sebagai pengencer minyak berat.

Vitol menyewa kapal Hellespont Protector untuk pengiriman naphtha dari Pantai Teluk AS. Naphtha ini mengencerkan minyak mentah berat Venezuela agar lebih mudah diangkut dan diproses. Perusahaan tersebut memperoleh lisensi awal 18 bulan dari pemerintah AS untuk negosiasi impor-ekspor minyak Venezuela.[Departemen Luar Negeri AS]

Sementara itu, CEO Trafigura Richard Holtum bertemu Presiden Donald Trump di Gedung Putih hari Jumat. “Kapal pertama kami seharusnya memuat dalam minggu depan,” kata Richard Holtum, CEO Trafigura, pada pertemuan tersebut. Trafigura mengonfirmasi kesepakatan dengan pemerintah AS untuk layanan logistik dan pemasaran minyak Venezuela.

Perusahaan minyak besar seperti Chevron, ExxonMobil, ConocoPhillips, Halliburton, Valero, Marathon, Shell, Repsol, dan Eni bersaing merebut kontrak ekspor. Mereka menargetkan hingga 50 juta barel minyak dari inventaris PDVSA. Gedung Putih mengumpulkan hampir 20 eksekutif perusahaan minyak hari Jumat untuk membahas peran mereka di sektor energi Venezuela.

Trump mengklaim perusahaan-perusahaan tersebut akan menginvestasikan minimal 100 miliar dolar AS untuk membangun kembali industri minyak Venezuela. Namun, beberapa eksekutif menyatakan kehati-hatian tanpa perubahan hukum dan kelembagaan besar. Kesepakatan ini menyusul penangkapan Presiden Nicolás Maduro oleh militer AS pada 3 Januari melalui Operasi Absolute Resolve.

Pemerintahan Trump mengumumkan kendali atas penjualan minyak Venezuela untuk waktu tak terbatas. AS mempertahankan blokade laut terhadap kapal tanker sanksi sejak pertengahan Desember. Blokade ini memutus akses Venezuela ke pelanggan utama Tiongkok yang mengimpor 430.000 barel per hari sebelumnya.

Chevron, satu-satunya perusahaan AS besar yang beroperasi di Venezuela, menyatakan kesiapan tingkatkan produksi 50 persen dalam 18-24 bulan. Produksi saat ini mencapai 240.000 barel per hari, sementara total produksi Venezuela sekitar 900.000 barel per hari. Angka ini turun drastis dari 3,5 juta barel pada 1970-an.

Perusahaan-perusahaan berupaya amankan kapal tanker dan bangun operasi transfer kapal-ke-kapal. Mereka tangani minyak dari kapal penyimpanan serta fasilitas darat Venezuela yang sudah tua. Langkah Vitol Venezuela naphtha ini membuka jalan bagi aktivitas ekspor lebih luas di tengah blokade minyak AS.

Kondisi tersebut menunjukkan persaingan ketat untuk kontrak menguntungkan. Meskipun begitu, tantangan logistik tetap ada karena fasilitas Venezuela kurang terawat. Pemerintah AS dorong investasi besar untuk pulihkan sektor energi negara tersebut.*/LIA