DUBAI, KAREBA – Eksodus warga kaya Dubai dilaporkan meningkat drastis setelah serangan balasan Iran memicu kepanikan massal di wilayah Teluk sejak akhir Februari 2026. Konflik bersenjata ini memaksa para eksekutif global dan turis kaya melarikan diri menggunakan jet pribadi hingga menempuh jalur darat ke Oman demi menghindari gangguan penerbangan yang melumpuhkan infrastruktur di Uni Emirat Arab.

Serangan yang melibatkan ratusan rudal balistik dan drone tersebut mengakibatkan kerusakan signifikan pada Bandara Internasional Dubai. Kondisi ini memicu pembatalan lebih dari 3.400 penerbangan komersial, sehingga eksodus warga kaya Dubai kini bergantung sepenuhnya pada layanan evakuasi eksklusif yang sangat terbatas.

Biaya evakuasi udara melonjak tajam seiring tingginya permintaan untuk keluar dari kawasan konflik. Harga sewa jet pribadi dari Riyadh menuju Eropa kini menyentuh angka Rp5,6 miliar per penerbangan, sementara rute pendek ke Muscat atau Istanbul dibanderol mulai dari Rp1,5 miliar untuk jenis jet ringan.

“Penerbangan dari Riyadh ke Eropa mencapai Rp5,6 miliar,” kata Ameerh Naran, CEO Vimana Private Jets.

Selain jalur udara, banyak warga asing memilih jalur darat melalui perbatasan Hatta menuju Oman yang menyebabkan kemacetan panjang selama berjam-jam pada 02/03. Pergerakan eksodus warga kaya Dubai melalui jalur darat ini melibatkan penggunaan SUV mewah dengan waktu tempuh mencapai 11 jam menuju Riyadh atau 5 jam ke Muscat.

“Penerbangan charter bisa mencapai Rp3,2 miliar, sementara beberapa penumpang mencoba mengurangi biaya dengan penerbangan pendek keluar dari kawasan lalu sambung penerbangan komersial,” kata Jay Smedley, Pemilik Dubai Key.

Kementerian Luar UEA menyampaikan kecaman paling kuat terhadap serangan Iran yang menargetkan wilayah-wilayah strategis tersebut. Otoritas setempat mengonfirmasi adanya korban jiwa di kalangan warga asing akibat puing intersepsi rudal yang jatuh di area pemukiman selama eskalasi berlangsung.

“Permintaan pasti meningkat. Ada jumlah pesawat yang semakin terbatas yang mau dan bisa terbang ke dan dari kawasan tersebut, dengan banyak pesawat lokal yang biasanya digunakan untuk penerbangan dari wilayah tersebut terjebak di bandara yang ditutup,” kata juru bicara Air Charter Service.

Hingga 05/03, tren eksodus warga kaya Dubai terus berlangsung meski kapasitas penerbangan repatriasi mulai ditingkatkan secara bertahap oleh pemerintah asing. Sejumlah negara Barat terus memantau situasi keamanan guna memastikan keselamatan ribuan warga negara mereka yang masih berada di zona merah konflik Teluk.