[YAMAN], KAREBA — Kelompok Houthi dari Yaman resmi bergabung dalam konflik regional dengan meluncurkan serangan rudal ke Israel selatan pada Sabtu (28/03). Aksi militer ini memicu kekhawatiran besar bagi stabilitas ekonomi global karena Houthi ancam jalur minyak di Selat Bab el-Mandeb. Serangan tersebut dilakukan menggunakan rudal balistik dan jelajah yang menyasar objek militer sensitif di wilayah selatan Israel.
Meskipun seluruh serangan berhasil dicegat oleh Pasukan Pertahanan Israel (IDF), eskalasi ini menandai ancaman serius bagi navigasi maritim di Laut Merah. Kondisi ini memperburuk situasi setelah penutupan Selat Hormuz oleh Iran yang telah terjadi sejak awal Maret 2026. Analis energi kini mewaspadai adanya blokade ganda di dua titik sempit utama perdagangan dunia secara bersamaan.
“Kami telah menembakkan rudal balistik dan jelajah ke lokasi militer sensitif di Israel selatan, berkoordinasi dengan Iran dan Hizbullah di Lebanon. Operasi akan berlanjut hingga agresi di semua front perlawanan berhenti,” kata Yahya Saree, Juru Bicara Houthi.
Potensi gangguan ini diprediksi akan memicu lonjakan harga energi secara signifikan di pasar internasional. JPMorgan memperingatkan bahwa jika Houthi ancam jalur minyak dan mengganggu operasional pelabuhan Yanbu di Arab Saudi, harga minyak mentah bisa naik hingga US$20 per barel. Saat ini, harga minyak mentah Brent sendiri sudah ditutup menguat 4,2 persen pada Jumat (27/03) sebagai respons atas ketegangan geopolitik.
“Pengaruh paling berarti Houthi adalah kemampuan mereka mengancam pusat ekspor Yanbu Arab Saudi di Laut Merah dan mengganggu lalu lintas komersial melalui Selat Bab al-Mandeb. Sekitar 5 juta barel per hari kapasitas bypass Saudi melalui Yanbu kini berisiko, yang bisa tambah US$20 per barel ke harga minyak,” kata Natasha Kaneva, Kepala Strategi Komoditas Global JPMorgan Chase & Co.
Selat Bab el-Mandeb merupakan jalur krusial yang melayani 10 persen pengiriman minyak dan gas global serta 30 persen pengiriman kontainer dunia. Blokade di wilayah ini akan memaksa kapal kargo mencari rute yang jauh lebih panjang dan mahal. Strategi Houthi ancam jalur minyak ini dianggap sebagai langkah untuk menekan pasokan energi global demi melemahkan dukungan terhadap Israel.
“Jika Houthi tingkatkan serangan ke pengiriman komersial, dampaknya tidak terbatas pada pasar energi, tapi akan mengguncang seluruh keamanan maritim,” kata Ahmed Nagi, Analis Senior Yaman International Crisis Group.
Hingga saat ini, komunitas internasional terus memantau pergerakan armada laut di sekitar Yaman untuk mencegah gangguan total pada arus logistik. Dengan ancaman yang semakin nyata, keamanan di Laut Merah menjadi prioritas utama bagi negara eksportir dan importir energi di Asia maupun Eropa. Langkah Houthi ancam jalur minyak diperkirakan akan terus berlanjut selama ketegangan di front perlawanan belum mereda.