JAKARTA, KAREBA — Harga Batubara Tertinggi sejak akhir 2024 resmi tercapai pada 09/03 setelah menyentuh level US$150 per ton di pasar Newcastle. Lonjakan tajam sebesar 9,3 persen ini terjadi di tengah krisis energi global yang dipicu oleh penutupan Selat Hormuz oleh militer Iran dan serangan drone terhadap fasilitas gas di Qatar.

Kenaikan drastis ini merupakan reaksi pasar terhadap terhentinya pasokan energi dari kawasan Teluk setelah eskalasi militer antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran. Investor mulai mengalihkan fokus ke komoditas batubara karena gangguan logistik minyak dan gas alam yang sangat signifikan. Kondisi ini membuat Harga Batubara Tertinggi menjadi pilihan utama untuk menjaga ketahanan energi di wilayah Asia.

“Selat Hormuz telah ditutup. Kami akan menyerang dan membakar kapal apa pun yang mencoba menyeberang,” kata Ebrahim Jabari, Penasihat Senior Panglima Tertinggi IRGC.

Selain batubara, harga minyak mentah Brent juga meroket hingga menembus US$111 per barel akibat ketegangan tersebut. Penutupan selat yang menjadi jalur bagi 31 persen perdagangan minyak laut global menyebabkan lalu lintas tanker menurun drastis hingga mendekati nol. Fenomena Harga Batubara Tertinggi ini diperparah oleh aksi fuel switching atau peralihan bahan bakar di negara-negara seperti Pakistan dan India.

“Lembaga tersebut siap untuk mengoordinasikan pelepasan cadangan minyak strategis negara-negara maju jika diperlukan,” kata Fatih Birol, Direktur Eksekutif International Energy Agency.

Hingga saat ini, pasar masih menunggu kepastian terkait pembukaan kembali jalur pelayaran vital tersebut. Selama Selat Hormuz masih diblokade, tren Harga Batubara Tertinggi diprediksi akan terus bertahan atau bahkan meningkat lebih jauh. Dampak ini mulai dirasakan di Indonesia melalui kenaikan Harga Batubara Acuan (HBA) pada periode Maret 2026 sebagai respon atas ketidakpastian global.