QATAR, KAREBA Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy mengungkapkan tuduhan serius bahwa penggunaan Intelijen Satelit Rusia telah membantu Iran meluncurkan serangan ke pangkalan militer Amerika Serikat di Arab Saudi pada 27/03/2026. Berbicara dalam wawancara di Qatar, Zelenskyy mengklaim memiliki bukti keterlibatan Moskow dalam menyediakan data visual sasaran sebelum serangan rudal terjadi.

Zelenskyy menjelaskan bahwa agen intelijen Ukraina menemukan pola pengambilan gambar satelit Rusia yang mencurigakan di atas Pangkalan Udara Prince Sultan. Satelit tersebut tercatat mengambil foto lokasi sebanyak tiga kali pada 20/03, 23/03, dan 25/03, sebuah pola yang biasanya mendahului serangan militer dalam waktu singkat.

“Kami tahu bahwa jika mereka mengambil gambar sekali, mereka sedang mempersiapkan. Jika mereka mengambil gambar dua kali, itu seperti simulasi. Kali ketiga berarti dalam satu atau dua hari, mereka akan menyerang,” kata Volodymyr Zelenskyy, Presiden Ukraina.

Serangan yang terjadi pada 27/03/2026 itu melibatkan sedikitnya 6 rudal balistik dan 29 drone yang menyebabkan kerusakan pada pesawat pengisian bahan bakar. Insiden ini melukai minimal 12 personel militer Amerika Serikat, menambah daftar panjang korban sejak operasi militer di kawasan tersebut dimulai pada akhir Februari lalu.

Berdasarkan data yang dihimpun, CIA sebelumnya telah memberikan peringatan kepada Kongres bahwa Iran aktif mencari dukungan data intelijen dari negara sekutunya. Selain pangkalan di Arab Saudi, satelit Rusia juga terdeteksi memotret Pangkalan Udara Incirlik di Turki dan Al Udeid di Qatar pada 26/03/2026.

“Saya pikir itu sesuai dengan kepentingan Rusia untuk membantu orang Iran. Dan saya tidak percaya, saya tahu, bahwa mereka berbagi informasi. Apakah mereka membantu orang Iran? Tentu saja. Berapa persen? Seratus persen,” kata Volodymyr Zelenskyy, Presiden Ukraina.

Pemerintah Rusia melalui Menteri Luar Negeri Sergey Lavrov telah membantah keras tuduhan pemberian Intelijen Satelit Rusia kepada pihak Teheran pada 26/03/2026. Meski mengakui adanya pengiriman peralatan militer sesuai aliansi bilateral, Lavrov menegaskan bahwa Rusia tidak terlibat dalam operasional intelijen untuk serangan Iran.

“Kami tidak memberikan intelijen kepada Iran, meskipun kami mengakui pengiriman peralatan militer di bawah aliansi kami yang sudah lama,” kata Sergey Lavrov, Menteri Luar Negeri Rusia.

Pernyataan Zelenskyy ini memicu perdebatan internasional terkait keputusan Amerika Serikat yang sebelumnya mencabut sanksi minyak Rusia. Pemimpin Ukraina tersebut mempertanyakan validitas pelonggaran sanksi ekonomi jika Moskow terbukti masih aktif membantu serangan terhadap fasilitas militer negara lain secara tidak langsung.

“Jika Rusia memberikan intelijen semacam itu untuk serangan pada fasilitas negara lain, bagaimana sanksi bisa dicabut?” kata Volodymyr Zelenskyy, Presiden Ukraina.