BEIJING, KAREBA – Militer China dilaporkan menempatkan lebih dari 200 pesawat tempur J-6 yang dikonversi menjadi drone serang di enam pangkalan udara dekat Selat Taiwan guna mempersiapkan skenario invasi China ke Taiwan. Langkah strategis ini bertujuan untuk melumpuhkan sistem pertahanan udara Taiwan dan Amerika Serikat melalui serangan gelombang pertama yang masif.
Berdasarkan laporan terbaru dari Mitchell Institute bertajuk China Airpower Tracker pada 15/02, jet tempur usang tahun 1960-an tersebut telah dimodifikasi dengan sistem navigasi canggih. China mengklaim wilayah tersebut sebagai kedaulatannya dan terus meningkatkan tekanan militer di sekitar pulau tersebut guna memperkuat posisi tawar mereka.
Konversi besar-besaran ini melibatkan lebih dari 500 unit J-6 menjadi varian drone J-6W yang mampu terbang secara otonom. Penggunaan drone murah ini diprediksi akan membuat sistem pertahanan udara lawan kewalahan karena harus menghabiskan rudal mahal untuk menjatuhkan target bernilai rendah saat skenario invasi China ke Taiwan berlangsung.
“Mereka akan menyerang Taiwan, target AS atau sekutu dalam jumlah besar, secara efektif overwhelm pertahanan udara,” kata J. Michael Dahm, Senior Fellow Mitchell Institute.
Mitchell Institute mencatat bahwa taktik asimetris ini merupakan bagian dari arsenal besar China yang mencakup rudal jelajah dan pesawat tempur modern. Rencana invasi China ke Taiwan diprediksi akan melibatkan serangan terkoordinasi untuk memastikan keunggulan udara di fase awal konflik.
“Tujuan utama drone ini adalah melelahkan sistem pertahanan udara Taiwan di gelombang serangan pertama,” kata seorang pejabat keamanan senior Taiwan.
Taiwan sendiri merespons ancaman ini dengan mempercepat pengadaan sistem kontra-drone dan strategi pertahanan asimetris lainnya untuk menjaga kedaulatan wilayah. Meskipun Amerika Serikat menilai ancaman invasi China ke Taiwan belum akan terjadi dalam waktu dekat, persiapan militer terus menunjukkan intensitas yang meningkat di pesisir Fujian.
“Akan ada banyak hal beragam datang bersamaan. Itu mimpi buruk pertahanan udara,” kata Peter Layton, pakar dari Griffith University.