JAKARTA, KAREBA Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia mengonfirmasi gangguan pada pasokan minyak Indonesia setelah dua kargo minyak mentah dari Singapura dipaksa berbalik arah secara sepihak. Insiden ini terjadi di tengah penutupan Selat Hormuz oleh Iran yang memicu krisis energi global dan memutus jalur distribusi seperlima minyak dunia.

“Dua hari lalu, kita sudah membeli minyak dari Singapura, sudah berangkat, ditender oleh Pertamina lewat trader, sudah berangkat, sudah masuk laut Indonesia, kemudian suruh kembali lagi, dua kargo,” kata Bahlil Lahadalia, Menteri ESDM.

Pemerintah segera merespons dengan protes keras serta ancaman gugatan hukum agar pihak penjual menghormati kontrak pengiriman untuk mengamankan pasokan minyak Indonesia. Melalui tekanan tersebut, trader akhirnya setuju untuk mengirimkan kembali dua kargo minyak pengganti yang dijadwalkan tiba pada 18/03/2026.

Sebagai langkah antisipasi jangka panjang, pemerintah kini mempercepat diversifikasi sumber impor untuk menjaga stabilitas pasokan minyak Indonesia dari risiko ketegangan geopolitik. Indonesia mulai melirik pasokan dari Amerika Serikat, Nigeria, Brasil, hingga Australia guna mengurangi ketergantungan pada kawasan Timur Tengah yang sedang bergejolak.

“Dan tadi, beberapa hari kan saya sudah laporkan bahwa kita akan mengkonversi dari BBM kita, crude ya, minyak mentah dari Middle East itu ke Amerika dan beberapa negara lain seperti Nigeria kemudian Brasil, Australia, dan beberapa negara lain,” kata Bahlil Lahadalia, Menteri ESDM.

Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Simon Aloysius Mantiri menegaskan komitmen perusahaan untuk menjamin ketersediaan energi bagi masyarakat menjelang hari raya. Seluruh fasilitas operasional dipastikan siaga penuh guna mengantisipasi lonjakan konsumsi di tengah situasi pasar global yang tidak menentu.

“Fokus utama kami adalah memberikan ketenangan bagi masyarakat. Seluruh fasilitas operasional Pertamina akan bekerja 24 jam untuk menjamin ketersediaan BBM, LPG, dan Avtur tetap terjaga di tengah lonjakan mobilitas,” kata Simon Aloysius Mantiri, Direktur Utama PT Pertamina (Persero).