TEHRAN, KAREBA – Reuters merilis video diary langka yang memperlihatkan kondisi mencekam di dalam kota Tehran saat Perang AS-Israel Lawan Iran memasuki bulan kedua pada Maret 2026. Video berdurasi 14 menit tersebut mendokumentasikan kehidupan warga sipil di tengah serangan udara, pemadaman internet, hingga blokade militer yang melumpuhkan Selat Hormuz.
Koresponden Ahmed Jadallah menjadi jurnalis Reuters pertama yang berhasil melapor dari ibu kota Iran tersebut dalam lebih dari satu dekade terakhir. Laporannya menyoroti rutinitas masyarakat yang terjepit di antara reruntuhan bangunan apartemen dan rapat dukungan militer di pusat kota dalam Perang AS-Israel Lawan Iran.
“Setiap kali saya bertanya kepada rakyat apa yang mereka inginkan, jawaban mereka selalu mereka ingin perang diakhiri. Baik yang mendukung pemerintah atau anti-pemerintah, mereka butuh perang diakhiri,” kata Ahmed Jadallah, Koresponden Reuters.
Berdasarkan data dari Federasi Internasional Palang Merah dan Bulan Sabit Merah, jumlah korban jiwa telah melampaui 1.900 orang sejak agresi dimulai pada 28/02. Serangan yang dilakukan oleh pasukan koalisi tersebut dikabarkan telah menyerang ribuan target strategis di seluruh wilayah Iran.
Di sisi diplomatik, pemerintah Amerika Serikat sebelumnya memprediksi bahwa kampanye militer ini akan berlangsung singkat. Namun, penutupan jalur maritim oleh angkatan laut Korps Pengawal Revolusi Islam justru memperpanjang ketegangan regional selama Perang AS-Israel Lawan Iran ini berlangsung.
“Kami mengharapkan operasi ini selesai dalam hitungan minggu, bukan bulan,” kata Marco Rubio, Sekretar Negara AS.
Situasi di lapangan semakin sulit bagi jurnalis karena adanya sensor ketat dan pemadaman akses internet oleh otoritas setempat. Warga melaporkan bahwa tayangan televisi negara lebih banyak diisi oleh propaganda militer dibandingkan fakta lapangan yang terjadi di zona konflik Perang AS-Israel Lawan Iran.