MOUNTAIN VIEW, KAREBA – CEO Google Sundar Pichai sebut OpenAI sebagai perusahaan kecil asal San Francisco yang sempat memicu situasi tidak nyaman namun menggairahkan bagi internal Google. Pernyataan ini merujuk pada momen peluncuran ChatGPT pada akhir 2022 yang langsung memicu status peringatan merah atau Code Red di markas besar Google. Kehadiran teknologi chatbot tersebut memaksa raksasa teknologi ini untuk segera mempercepat peta jalan produk kecerdasan buatan mereka.
Pichai mengakui bahwa dirinya sempat merasa terkejut dengan kecepatan difusi teknologi yang dibawa oleh tim OpenAI. Meskipun demikian, ia merasa bahwa Google sebenarnya sudah memiliki semua elemen dasar teknologi serupa jauh sebelum tren chatbot meledak. Faktor risiko reputasi dan akurasi informasi menjadi alasan utama mengapa Google tidak merilis produk tersebut lebih awal ke publik luas.
“Tapi benar, penghargaan untuk OpenAI, mereka merilisnya lebih dulu. Perusahaan kecil di San Francisco bernama OpenAI,” kata Sundar Pichai, CEO Google, saat memberikan pandangannya dalam konferensi Dreamforce.
Strategi respons cepat kemudian diambil oleh Alphabet Inc. dengan menyatukan tim riset AI mereka di bawah satu payung pengembangan besar. Google akhirnya meluncurkan Bard pada 06/02 sebagai langkah awal sebelum berevolusi menjadi model Gemini yang lebih kuat. Sundar Pichai sebut OpenAI telah memberikan perspektif baru bagi industri mengenai betapa cepatnya teknologi ini bisa menjangkau masyarakat umum.
“Uncomfortably exciting,” kata Sundar Pichai, CEO Google, menggambarkan perasaan pribadinya saat melihat pergeseran peta persaingan teknologi yang begitu dinamis.
Hingga saat ini, Google terus meningkatkan investasi infrastruktur mereka dengan target belanja modal mencapai 185 miliar USD pada 2026. Langkah agresif ini diambil untuk memastikan perusahaan tetap relevan di tengah persaingan ketat dengan berbagai startup baru. Sundar Pichai sebut OpenAI tetap menjadi bagian dari sejarah penting yang memicu ledakan inovasi AI di seluruh dunia saat ini.