YOGYAKARTA, KAREBA — Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti dorong penguasaan AI dan coding sebagai mata pelajaran pilihan sejak kelas 5 SD mulai tahun ajaran 2025/2026. Pernyataan itu disampaikan saat jadi pembicara kunci di Karangmalang Education Forum, Universitas Negeri Yogyakarta, Sabtu (24/1/2026).
Abdul Mu’ti tekankan transformasi pendidikan ini jawab tantangan era digital. Ia ungkap Kemendikdasmen telah selesaikan naskah akademik dan capaian pembelajaran untuk AI dan coding.
“Pembelajaran coding dan kecerdasan artifisial ini akan kami jadikan sebagai mata pelajaran pilihan untuk jenjang SD, SMP, dan SMA. Untuk SD akan dimulai pada kelas 5,” kata Abdul Mu’ti pada April 2025 di kantor Kemenko PMK, Jakarta.
Kebijakan ini resmi tertuang dalam Peraturan Mendikdasmen Nomor 13 Tahun 2025. Dokumen tersebut izinkan sekolah masukkan AI dan coding mapel kelas V SD secara bertahap, mulai kelas 5 SD/sederajat, kelas 7 SMP, dan kelas 10 SMA.
Sementara itu, Kepala Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan (BSKAP) Kemendikdasmen Toni Toharudin sebut langkah ini wujudkan siswa kritis, produktif, dan bertanggung jawab.
Meskipun begitu, mata pelajaran ini bersifat pilihan, bukan wajib. Sekolah yang siap saja terapkan, sementara yang belum bisa mulai lewat kokurikuler atau ekstrakurikuler. Kepala Pusat Kurikulum dan Pembelajaran Kemendikdasmen Laksmi Dewi ingatkan kesiapan guru dan sarana prasarana jadi kunci sukses.
“Pelajaran koding dan artifisial ini adalah mata pelajaran pilihan. Artinya, pilihan ini tentu menjadi kewenangan dari satuan pendidikan yang memang merasa siap,” tegas Laksmi dalam webinar sosialisasi Permendikdasmen Nomor 13 Tahun 2025, 22 Juli 2025.
Alokasi waktu pembelajaran AI dan coding mapel kelas V SD capai 72 jam setahun untuk kelas 5, turun jadi 64 jam di kelas 6. Kemendikdasmen sediakan pelatihan guru bagi sekolah yang butuh. Selain itu, Telkom melalui program PIJAR latih 116 guru di Semarang dan Boalemo pada Juli-Agustus 2025 untuk dukung implementasi kurikulum ini.
Abdul Mu’ti soroti pentingnya etika digital di samping skill teknis. Ia peringatkan manipulasi AI seperti pemalsuan gambar dan suara bisa rusak masyarakat.
“AI harus kita posisikan sebagai alat untuk memperkuat kemanusiaan, bukan menggantikannya,” ujarnya di Yogyakarta.
Implementasi bertahap ini libatkan pelatihan mandiri sekolah atau bantuan kementerian. Hingga kini, naskah akademik dan perangkat digital siap diluncurkan. Siswa kelas 5 SD kini punya peluang kuasai AI dan coding lebih dini, siapkan generasi unggul hadapi revolusi industri 4.0.*/LIA