WASHINGTON, KAREBA. Amerika Serikat di bawah kepemimpinan Presiden Donald Trump melancarkan Operation Epic Fury secara besar-besaran bersama Israel untuk menghancurkan infrastruktur militer Iran sejak akhir Februari 2026. Operasi tempur udara dan laut ini menargetkan kemampuan rudal balistik, drone, serta sistem pertahanan udara guna mencegah pengembangan senjata nuklir Teheran.

Hingga memasuki pekan ketiga pada 15/03/2026, serangan tersebut dilaporkan telah menghantam lebih dari 7.000 target strategis di seluruh wilayah Iran. Serangan yang dilakukan oleh militer AS dan Israel ini juga dikonfirmasi telah menewaskan Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei pada hari pertama operasi, disusul tewasnya pejabat keamanan tertinggi Ali Larijani pada Selasa pekan ini.

“Kita belum siap pergi sekarang, tapi kita akan pergi dalam waktu sangat dekat,” kata Donald Trump, Presiden Amerika Serikat saat memberikan keterangan di Oval Office bersama Perdana Menteri Irlandia Micheál Martin.

Eskalasi Operation Epic Fury memicu dampak ekonomi global yang serius setelah Iran melakukan pembalasan dengan memblokir Selat Hormuz. Blokade jalur perdagangan energi tersebut menyebabkan harga minyak dunia melonjak hingga melewati angka USD 100 per barel atau sekitar Rp 1.590.000 per barel. Selain itu, serangan balasan Iran dilaporkan mengenai infrastruktur sipil di wilayah Teluk termasuk Bandara Internasional Dubai.

Di internal pemerintahan, kebijakan perang ini memicu gejolak politik yang puncaknya ditandai dengan pengunduran diri Joe Kent sebagai Direktur National Counterterrorism Center. Sejumlah anggota dari Partai Demokrat juga mulai mendesak pihak Gedung Putih untuk segera memaparkan rencana pasca-operasi guna menghindari krisis berkepanjangan seperti perang masa lalu.

“Regim ini segera akan mengerti bahwa menantang kekuatan dan kekuatan angkatan bersenjata Amerika Serikat adalah tindakan tidak bijak,” kata Donald Trump, Presiden Amerika Serikat dalam video pengumuman resminya melalui platform media sosial.

Meskipun Trump mengklaim telah melumpuhkan 90 persen peluncur rudal balistik Iran, setidaknya 13 anggota militer Amerika Serikat dilaporkan tewas dalam berbagai serangan balasan. Hingga saat ini, komunitas internasional masih menunggu langkah diplomatik selanjutnya di tengah penolakan sekutu NATO untuk terlibat dalam pembukaan blokade Selat Hormuz.