BAGHDAD, KAREBA — Sebuah pesawat pengisian bahan bakar KC-135 Stratotanker milik Angkatan Udara Amerika Serikat jatuh di wilayah Irak barat pada awal Maret 2026. Peristiwa pesawat tanker AS jatuh ini mengakibatkan enam anggota layanan militer tewas di tempat karena armada tersebut tidak dilengkapi dengan fasilitas parasut untuk kru.
Insiden tragis ini terjadi saat pesawat sedang menjalankan misi dukungan untuk jet tempur F-15E Strike Eagle dalam rangkaian Operasi Epic Fury. Hingga saat ini, pihak berwenang masih melakukan penyelidikan mendalam guna mengetahui penyebab pasti di balik kecelakaan fatal di tengah operasi militer tersebut.
Pihak militer menegaskan bahwa jatuhnya pesawat bukan disebabkan oleh serangan musuh maupun tembakan dari rekan sendiri atau friendly fire. United States Central Command menyatakan tidak ada indikasi ancaman eksternal yang terdeteksi sesaat sebelum pesawat itu menghantam tanah.
“Kecelakaan ini sedang diselidiki, tetapi bukan karena tembakan musuh atau tembakan ramah,” kata perwakilan United States Central Command.
Pesawat KC-135 Stratotanker merupakan teknologi era 1950-an yang dikembangkan dari prototipe Boeing Dash 80 dan masih digunakan secara luas. Ketidakhadiran parasut pada desain tanker lawas ini menjadi faktor krusial yang membuat tidak ada awak selamat dalam kejadian pesawat tanker AS jatuh di gurun Irak tersebut.
Operasi Epic Fury sendiri sedang menjadi sorotan setelah adanya insiden terpisah di Kuwait pada 01/03 lalu. Tiga jet F-15E secara tidak sengaja ditembak jatuh oleh pertahanan udara setempat, namun berbeda dengan kejadian di Irak, para pilot di Kuwait berhasil menyelamatkan diri menggunakan parasut.
Kerugian akibat peristiwa pesawat tanker AS jatuh ini diperkirakan sangat besar mengingat peran strategis tanker dalam memperpanjang jangkauan tempur armada udara. Dukungan bahan bakar dari KC-135 sangat vital bagi operasi jet tempur AS yang membutuhkan jangkauan hingga ribuan mil tanpa pengisian ulang di darat.